Bermanfaatlah untuk Umat dan Alam Semesta

Pernahkah timbul pertanyaan dalam diri kita, untuk apakah kita terlahir di dunia? Sebagai apa dan apa yang harus kita lakukan untuk memenuhi peran tersebut. Bila kita putar kembali dari awal kehidupan manusia maka akan terlihat bahwa sungguh tiap manusia yang terlahir di dunia, merupakan sosok pilihan yang bersiap menjadi sosok mulia di Dunia. Pada proses pertama manusia menjadi embrio atau janin, berawal dari persaingan jutaan sperma untuk memperebutkan 1 sel telur. 

Kemudian terproses dalam suatu ruang yang kokoh dengan asupan sari-sari nutrisi pilihan, disertai energi cinta dan harapan manusia lain, hingga proses kelahiran penuh resiko yang mempertaruhkan nyawa manusia lain. Maka melihat proses tersebut, tidakkah kita menyadari sesungguhnya kita merupakan sosok yang memang disiapkan untuk mengambil peran mulia di dunia.

Pada proses pertumbuhan, manusia tumbuh dengan potensi dan lingkungan yang bervariasi. Seiring dengan berjalannya waktu potensi yang ada semakin terasah oleh lingkungan menjadi suatu bakat dan potensi yang dapat bermanfaat atau menyakiti bagi manusia lain yang bersinggungan denganya. Hal ini bergantung pada bagaimana manusia tersebut memakai potensi dan bakat yang dianugerahkan padanya.

Pada masa – masa tertentu dalam proses kehidupan, kita tentunya melewati masa pencarian jati diri untuk menjawab satu pertanyaan diatas. Kita mencoba mencari jawaban dengan membaca berbagai hal seperti; buku, keadaan, situasi, pengalaman, dan sebagainya. Sebagian memilih berhenti mencari dan belajar di tengah jalan karena putus asa tidak kunjung menemukan apa yang diharapkannya. Sebagian yang lain terus menjalani ‘pencariannya’ tanpa menyerah untuk mencari dan menjalani peran mulia yang diembankan Tuhan kepadanya.

Oleh karena itu sahabat blogger, marilah kita evaluasi dan koreksi kembali diri kita. apakah kita sudah pada jalur yang benar dalam menjalani peran mulia yang di embankan Tuhan pada kita? sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi lingkungannya. Tidak hanya manusia, kan tetapi juga seluruh makhluk di sekitarnya. Bakat dan kemampuan yang kita punya merupaka suatu titipan Tuhan. Dimana titipan tersebut tidak lain untuk kebermanfaatan dan kebaikan dunia dan seisinya. Sebagian dari harta kita, merupakan hak kaum fakir miskin dan yatim piatu. Ilmu yang kita punya merupakan kewajiban untuk di amalkan dan di tularkan pada sesama. Kekuasaan kita merupakan pelindung dan penenteram kaum yang lebih lemah. 

Sedikit tips dan kiat dari saya, jika kita ingin mengukur level kebermanfaatan kita maka dapat dilakukan sebagai berikut; apa bila tiap aktivitas yang menjadikan manfaat bagi 1 orang kita hitung 1 poin dan aktivitas yang merugikan 1 orang lain kita hitung -1 (minus satu) poin. Maka mari kita hitung sebelum kita beranjak tidur, sudah berapa poin kah yang telah kita hasilkan dalam satu hari aktivitas kita. positif, artinya aktivitas baik lebih banyak dari pada yang merugikan. 

Atau kita lebih banyak merugikan orang lain sehingga poin kita menjadi negatif. Kemudian di keesokan harinya kita bisa merencanakan bagaimana kita ingin meningkatkan poin kita dari hari yang kemarin. Dengan demikian semoga hal ini dapat menjadi tolak ukur pencapaian kinerja peran mulia kita di mata Tuhan. Selamat beraktivitas, semoga akumulasi poin anda selalu meningkat dari waktu ke waktu. 

Salam Sukses.

By Joyo Negoro